Sistem Informasi Desa Wlahar Wetan
WLAHAR WETAN – Memasuki pertengahan Maret 2026, hamparan sawah di Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, mulai bersalin rupa menjadi hamparan permadani emas. Suara deru mesin perontok gabah dan riuh rendah tawa para petani menjadi simfoni khas yang menandai puncak musim panen raya tahun ini.
Ada gairah yang berbeda pada musim panen kali ini. Bukan sekadar rutinitas, para petani tampak jauh lebih bersemangat berkat kepastian harga yang menggembirakan.
Tahun ini, Perum Bulog hadir dengan kebijakan harga yang dinilai sangat berpihak pada para petani. Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani dihargai sebesar Rp.6.500 per kilogram, Bulog memastikan pembayaran dilakukan langsung ke petani untuk transparansi, serta fokus menyerap panen raya guna mencegah jatuhnya harga ditingkat petani. Angka ini naik signifikan dibanding periode panen-panen sebelumnya, memberikan margin keuntungan yang sehat bagi para petani di tengah fluktuasi biaya produksi.
"Alhamdulillah, tahun ini harganya sangat bagus. Dengan Rp6.500 per kilo, kami merasa jerih payah selama empat bulan ini benar-benar dihargai. Kami sangat antusias menjual sebagian besar hasil panen ke Bulog," ujar Karto, salah satu petani senior di Wlahar Wetan.
Meski harga jual sedang tinggi, masyarakat Desa Wlahar Wetan tetap memegang teguh kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Pola pembagian hasil panen tahun ini terbagi menjadi dua fokus utama:
Penjualan ke Bulog: Memanfaatkan harga tinggi untuk modal tanam musim berikutnya serta kebutuhan ekonomi keluarga.
Simpanan Mandiri: Sebagian gabah tetap disimpan di lumbung pribadi atau digiling sendiri untuk menjamin stok beras konsumsi harian hingga panen berikutnya.
Kepala Desa Wlahar Wetan menyatakan bahwa koordinasi dengan pihak Bulog berjalan sangat lancar dengan dibantu BABINSA dan PPL Pertanian, proses penyerapan gabah dilakukan dengan cepat, BABINSA bersama PPL Pertanian memastikan kesiapan panen petani yang selanjutnya petugas dari Bulog menjemput gabah yang telah dipanen dengan armadanya langsung ke lokasi sehingga petani tidak perlu menunggu lama dan mendapatkan pembayaran langsung melalui transfer rekening petani masing-masing. Geliat ekonomi di desa pun meningkat drastis, warga yang tidak memiliki sawah dan ikut menjadi buruh panen gabah ikut kecipratan berkah.
Musim panen Maret 2026 ini bukan hanya tentang memotong padi, tapi tentang memanen harapan baru bagi kesejahteraan petani di Wlahar Wetan.