Logo
Sistem Informasi Desa Wlahar Wetan

Lestarikan Tradisi, Warga Grumbul Tamansari Wlahar Wetan Gelar Tasyakuran Ruwat Bumi

WLAHAR WETAN – Warga Grumbul Tamansari RT 03 RW 02 Desa Wlahar Wetan menggelar acara tasyakuran Ruwat Bumi dengan khidmat dan meriah. Kegiatan adat yang sarat akan nilai budaya ini dipusatkan di lingkungan RT setempat, menampilkan pagelaran Wayang Ruwat sebagai acara puncak.

Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur penting desa, mulai dari Kepala Desa Wlahar Wetan Bapak Slamet beserta jajaran perangkat desa, Ketua dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), para Ketua RW dan RT se-Desa Wlahar Wetan, hingga tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Bapak Kuat selaku Ketua RT 03 sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas gotong royong dan kekompakan warga sehingga acara adat ini dapat berjalan dengan lancar. Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Wlahar Wetan, Bapak Slamet, dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga Grumbul Tamansari yang terus konsisten menjaga dan melestarikan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Keunikan dari tasyakuran Ruwat Bumi kali ini adalah kentalnya nuansa kemandirian dan potensi lokal. Pagelaran Wayang Ruwat dibawakan langsung oleh Ki Narsun Hadi Carito, seorang dalang ruwat legendaris yang juga merupakan warga asli Desa Wlahar Wetan.

Tidak hanya sang dalang, para niyaga (penabuh gamelan) yang mengiringi pertunjukan sebagian besar adalah warga Wlahar Wetan yang tergabung dalam Sanggar Seni Ngreksa Budaya. Pertunjukan pun terasa semakin sakral dan autentik karena menggunakan seperangkat alat musik gamelan milik Pemerintah Desa Wlahar Wetan.

Di sekitar area pertunjukan, berbagai macam hasil bumi yang dirangkai indah serta sesajen ritual dipajang secara terbuka, menarik perhatian warga yang datang menyaksikan.

Bukan sekadar tontonan atau pesta rakyat, Ruwat Bumi memiliki kedalaman makna filosofis bagi masyarakat Jawa, khususnya warga Wlahar Wetan:

  • Simbol Rasa Syukur dan Sedekah Bumi Pajangan berbagai macam hasil bumi merupakan simbol nyata atas kelimpahan rezeki yang diberikan oleh Sang Pencipta melalui tanah yang subur. Ruwat bumi menjadi momen sakral untuk berterima kasih atas hasil panen dan keberkahan hidup.

  • Penyucian dan Tolak Bala (Ngrawat) Secara kebahasaan, ruwat berarti merawat atau membebaskan. Pagelaran Wayang Ruwat dan sesajen ritual bermakna sebagai doa permohonan secara spiritual agar desa dan warganya dibersihkan dari energi negatif, dijauhkan dari marabahaya (pagebluk), serta disucikan dari segala kemalangan.

  • Harmoni Antara Manusia dan Alam Tradisi ini mengingatkan warga bahwa manusia hidup berdampingan dan sangat bergantung pada alam. Menghormati bumi tempat berpijak berarti berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan tidak merusaknya.

  • Penguat Tali Silaturahmi (Gotong Royong) Keterlibatan seluruh elemen masyarakat—mulai dari panitia RT, sanggar seni lokal, hingga jajaran pemerintah desa—menjadi perekat sosial yang memperkuat rasa persatuan, kerukunan, dan gotong royong antarwarga.

    Acara Ruwat Bumi adalah termasuk tradisi masyarakat agraris sebagai ungkapkan rasa syukur atas karunianya serta guna memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.(mb).

Tulis Komentar