Ekologi merupakan mata rantai fisik dan proses biologi serta bentuk-bentuk yang menjembatani antara ilmu alam dan ilmu sosial.

Maksudnya, ilmu ekologi dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Contohnya, pencemaran udara merupakan salah satu kerusakan ekologis yang dapat mempengaruhi kondisi kehidupan manusia. Masalah pencemaran, kerusakan hutan, ledakan penduduk, masalah kekurangan makanan, penggunaan energi, kenaikan suhu bumi karena efek rumah kaca (greenhouse effect) atau pemanasan global (global warming), ozon berlubang, dan masalah lainnya telah memberikan efek yang mendalam atas teori ekologi.

Pemanasan global menjadi masalah yang crusial dalam bidang pertanian karena dampaknya yang cukup besar. Pemanasan global menyebabkan hilangnya sebagian lahan pertanian di muka bumi ini. Akibat pemanasan global, terjadi kenaikan permukaan air laut yang telah menenggelamkan banyak lahan pertanian yang terletak di tepi laut atau pantai. Dengan demikian, mau tidak mau manusia harus memikirkan pemecahan atau solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang keberadaannya sangatlah penting bagi kebutuhan kehidupan manusia. Dari kegiatan pertanian, bahan pangan bagi terpenuhi juga mampu menyediakan suplai oksigen (O2) ke udara yang dibutuhkan oleh manusia dan hewan di bumi. Sektor pertanian juga menjadi sumber perolehan pendapatan bagi sebagian besar petani di desa. Akan tetapi, sektor pertanian juga tidak jarang menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan kondisi ekologi lingkungan yang dijadikan lahan pertanian.

Beberapa tindakan pertanian seperti konversi hutan menjadi lahan pertanian, penggunaan pupuk kimia, serta pemakaian substansi kimia pemberantas hama dan penyakit tanaman (pestisida, insektisida, dan fungisida) merupakan contoh dari tindakan-tindakan pertanian yang dapat mempercepat proses perubahan lingkungan di bumi ini. Padahal, keberlanjutan (sustainability) terlaksananya suatu sistem pertanian merupakan kunci utama keberhasilan suatu kegiatan pertanian.

Manusia dengan kelebihannya yang mempunyai akal dan pikiran dalam kemajuan teknologi ini merasa sebagai makhluk yang paling berkuasa di alam ini. Penemuan-penemuan mutakhir dalam bidang pertanian yang pada mulanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang pada akhirnya justru dapat menjadi cambuk terhadap lingkungan bila prinsip-prinsip ekologi diabaikan. Contohnya adalah dengan ditemukannya berbagai macam pupuk kimia yang tujuannya adalah untuk menyuburkan pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk kimia pada awalnya memang dapat meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara esensial dalam tanah sehingga tanaman menjadi subur dan produktivitas tanaman yang dibudidayakan tersebut dapat meningkat.

Akan tetapi apabila kegiatan pemupukan dengan bahan-bahan kimia ini terus menerus dilakukan dalam jangka waktu lama, struktur dan susunan tanah menjadi berubah. Pada akhirnya, tanah menjadi keracunan oleh bahan kimia yang akibatnya justru tidak dapat ditanami tanaman lagi. Oleh karena itulah, perlu dilakukan pembatasan (limitasi) pemberian pupuk tersebut ke lahan-lahan pertanian.

Jika proses perubahan lingkungan tersebut terus menerus terjadi, maka sektor pertanian adalah sektor yang paling terancam keberadaannya. Hal itu disebabkan karena hampir semua kegiatan produksi pertanian sangat tergantung pada kondisi/ keadaan alam yang ada pada suatu wilayah. Meskipun bermacam teknologi yang ada pada saat ini memungkinkan berlangsungnya kegiatan pertanian yang tidak terlalu bergantung pada kondisi alam (seperti teknologi rumah kaca), namun faktor alam/ lingkungan tetap menjadi faktor utama penentu keberhasilan suatu kegiatan produksi pertanian.

Suatu kondisi tanah yang terus menerus diberi pupuk kimia dan substansi kimia lain (insektisida, pestisida, dan fungisida) lama kelamaan dapat mengalami keracunan. Bahan-bahan kimia tersebut akan terakumulasi dalam jumlah berlebih ke dalam tanah sehingga tanaman menjadi tidak dapat tumbuh di atasnya. Akibatnya, lahan tersebut tidak dapat ditanami oleh tanaman dan akhirnya menjadi lahan mati.

Interaksi dengan lingkungan fisik (energi dan mineral) pada setiap tingkatan dalam kegiatan pertanian menghasilkan sistem-sistem fungsional yang khas, dimana sistem tersebut mempunyai tujuan dan merupakan gabungan dari berbagai komponen yang secara teratur berinteraksi satu sama lain dan saling ketergantungan serta membentuk satu kesatuan struktur pertanian secara keseluruhan.

Dalam bidang pertanian, untuk dapat mengerti hubungan yang terjadi antara organisme dan lingkungannya, semua bidang ilmu yang dapat menerangkan setiap makhluk hidup dan lingkungan sangat diperlukan. Penyebaran, adaptasi, dan aspek-aspek fungsi organisme dan komunitas banyak dipelajari dalam ekologi dan erat hubungannya dengan ilmu-ilmu biologi lainnya seperti taksonomi, morfologi, fisiologi, dan genetika. Ekologi juga berhubungan erat dengan ilmu fisika, ilmu klimatologi, ilmu tanah, dan ilmu geografi, dimana ilmu-ilmu tersebut memberikan informasi mengenai keadaan lingkungan yang erat hubungannya dengan pertanian.

Ilmu tanah dapat memberikan gambaran kepada ahli pertanian maupun petani untuk menentukan komoditas yang akan dibudidayakannya sehubungan dengan jenis dan keadaan tanah di suatu lahan tertentu. Dari ilmu tanah, dapat ditentukan jenis/varietas tanaman yang memang cocok dibudidayakan di suatu wilayah. Dengan adanya kecocokan tersebut, maka tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan subur dan produktivitasnya dapat dimaksimalkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari ilmu tanah juga dapat ditentukan perlakuan pertanian apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang petani. Misalnya, tanah yang mengandung fraksi pasir dominan mempunyai daya lolos air yang cepat dan tingkat evaporasi yang tinggi. Dengan demikian, penggunaan air menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, pemberian bahan penutup tanah, baik anorganik (misalnya mulsa) ataupun organik (misalnya seresah dan kertas) dapat dilakukan oleh ahli pertanian yang sudah mengerti akan ilmu ini. Sementara itu, Jadi, pengetahuan akan ilmu ekologi sangat diperlukan bagi seorang petani untuk dapat mengungkapkan hubungan antara kondisi alam/ lingkungan dan dunia pertanian yang dihadapinya.

Oleh karena itulah, untuk mewujudkan suatu sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable), manusia harus belajar memahami lingkungannya dan pandai mengatur sumber-sumber daya alam dengan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan demi pengamanan dan kelestarian lingkungan.

Seorang petani harus dapat melihat jauh ke depan, dalam jangka panjang yang lebih bersifat pengamanan dan pemeliharaan untuk dapat hidup dengan baik dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Dalam kenyataannya, asas-asas ekologi banyak diterapkan dalam kegiatan pertanian, seperti peningkatan produksi makanan, program pengendalian erosi, pelestarian plasma nutfah dan hewan-hewan langka, koleksi buah-buahan langka, pencemaran (polusi) akibat pestisida, dan lain sebagainya. Masalah ekologis dalam bidang pertanian dapat diminimalkan jika seorang petani paham dan mengerti betul akan prinsip-prinsip ekologi. Pada dasarnya, masalah-masalah dalam bidang pertanian itu timbul karena petani yang tidak mengerti akan prinsip-prinsip ekologi. Oleh karena itulah, semua orang harus memahami ekologi, termasuk ahli-ahli di bidang pertanian.

Pertanian Organik di Wlahar Wetan

Apabila petani sudah mengerti akan prinsip-prinsip dari ilmu ekologi, maka ia akan melakukan tindakan-tindakan pertanian yang lebih “ramah lingkungan”. Misalnya, seorang petani yang menyadari akan bahaya bahan kimia pestisida bagi tanah akan menggunakan pestisida tersebut dalam jumlah seminimal mungkin (membatasi penggunaan pestisida) atau bahkan beralih menggunakan pestisida alami (nabati) dalam rangka mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan. Di samping itu, petani tersebut juga tentu saja akan lebih memilih menggunakan pupuk organik daripada pupuk kimia sebagai suplai nutrisi tambahan bagi tanaman yang ia budidayakan. Ia juga akan menerapkan sistem pertanaman polikultur atau tumpang sari dan tumpang gilir. Dengan adanya sistem tersebut, tingkat kesuburan tanah di suatu lahan pertanian dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan dan serangan akibat hama dan penyakit tanaman dapat diminimalkan. Jadi, seorang petani yang memang mengerti akan asas-asas ekologi pasti tidak akan berbuat berlebihan dalam setiap tindakan yang ia lakukan yang dapat mengubah suatu sistem ekologis yang berada di suatu wilayah. Akan tetapi, ia akan menerapkan suatu sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan (misalnya sistem pertanian organik). Dengan lingkungan di desa yang tetap terjaga dengan baik sistem ekologisnya, maka keberlanjutan (sustainability) suatu kegiatan pertanian dapat dicapai.